Sabtu, 07 April 2012

hubungan antara jarak pemasangan infus dan persendian dengan kejadian flebitis di Vapiliun Marwa (Bedah) Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang Tahun 2012


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Rumah sakit merupakan suatu tempat dimana orang yang sakit dirawat dan ditempatkan dalam ruangan yang berdekatan atau antara satu tempat tidur dengan tempat tidur lainnya (Darmadi, 2008). Semua pasien yang dirawat di Rumah Sakit setiap tahun, 50% mendapat terapi intravena. Namun, terapi IV terjadi di semua lingkungan perawatan kesehatan: perawatan akut, perawatan emergensi, perawatan ambulatory, dan perawatan kesehatan di rumah. Hal ini membuat besarnya populasi yang berisiko terhadap infeksi yang berhubungan IV (Schaffer,dkk, 2000).
Menurut Smeltzer dan Bare dikutip Mulyani (2010), Phlebitis yang didefinisikan sebagai inflamasi vena yang disebabkan baik oleh iritasi kimia maupun mekanik. Hal ini dikarakteristikkan dengan adanya daerah yang memerah dan hangat di sekitar daerah penusukan atau sepanjang vena, pembengkakan, nyeri atau rasa lunak di sekitar daerah penusukan atau sepanjang vena.
1
 
Phlebitis dapat menyebabkan trombus yang selanjutnya menjadi trombophlebitis, trombophlebitis adalah peradangan dinding vena dan biasanya disertai pembentukan bekuan darah. Dan perjalanan penyakit ini bersifat jinak namun jika trombus terlepas kemudian diangkut dalam aliran darah dan masuk ke jantung maka dapat menimbulkan gumpalan darah seperti katup bola yang bisa menyumbat atrioventikular jantung secara mendadak dapat menimbulkan kematian. Hal ini menjadikan phlebitis sebagai salah satu permasalahan yang penting untuk dibahas di samping phlebitis juga sering ditemukan dalam proses keperawatan (Brunner dan Suddart, 2002)
Menurut Syaifuddin (2006), lokasi pemasangan kateter intravena adalah tempat pemasangan kateter intravena berdasarkan anatomi ekstremitas atas yaitu vena perifer yang menjadi tempat pemasangan infus yaitu: vena metacarpal, vena sefalika. Secara anatomis, vena sefalika terdiri dari ukuran lumen dindingnya besar, elastisitas lapisan venanya terbentuk dari sel endothelium yang diperkuat oleh jaringan fibrus dan dibatasi oleh selapis tunggal sel epitel gepeng. Secara anatomis, vena metacarpal terdiri dari ukuran lumen dindingnya kecil, elasitisitas lapisan venanya lebih tipis, kurang kuat dan kurang elastik. Kedua lokasi ini dapat memberikan kemudahan bagi perawat dalam pemasangan terapi intravena. Tetapi sebaliknya apabila terjadi kesalahan dalam pemasangan kateter intravena akan menyebabkan kerusakan endomethelium vena sehingga jaringan vena akan terinflamasi yang akan mengakibatkan terjadinya phlebitis.
Menurut  Depkes RI Tahun 2006 dikutip Wijayasari, Jumlah kejadian Infeksi Nosokomial berupa phlebitis di Indonesia sebanyak (17,11%). Sedangkan  hasil penelitian yang dilakukan Widiyanto (2002), mengatakan bahwa angka kejadian phlebitis di Rumah Sakit Cipto Mangkusumo Jakarta sebanyak 53,8%. Sejalan dengan Penelitian yang dilakukan Baticola (2002), mengatakan bahwa angka kejadian phlebitis di RSUP Dr. Sardjito Jogjakarta sebanyak 27,19 %, Sedangkan hasil penelitian Saryati (2002), mengatakan  bahwa angka kejadian  phlebitis di RSUD Purworejo sebanyak 18,8% (Bayu, 2010).
Hasil penelitian ini yang dilakukan oleh Mulyani (2010), yang menyatakan rata-rata kejadian phlebitis waktu ≥ 24 jam dan ≤ 72 jam setelah pemasangan terapi intravena. Dan hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi pemasangan infus terletak pada vena sefalika dan tidak terjadi phlebitis sebanyak 11 responden (91,7%). Sedangkan lokasi pemasangan infus terletak pada vena metacarpal dan terjadi phlebitis sebanyak 20 responden (41,7%).
Dampak yang terjadi dari infeksi tindakan pemasangan infus (phlebitis) bagi pasien menimbulkan dampak yang nyata yaitu ketidaknyamanan pasien, pergantian kateter baru, menambah lama perawatan, dan akan menambah biaya perawatan di rumah sakit. Bagi mutu pelayanan rumah sakit akan menyebabkan izin operasional sebuah rumah sakit dicabut dikarenakan tingginya angka kejadian infeksi phlebitis, beban kerja atau tugas bertambah bagi tenaga kesehatan, dapat menimbulkan terjadinya tuntutan (malpraktek), menurunkan citra dan kualitas pelayanan rumah sakit (Darmadi, 2008).
Belajar dari masalah di atas, dapat dilihat bahwa dampak yang terjadi dari phlebitis sangat merugikan bagi pasien dan mutu pelayanan rumah sakit.  Phlebitis dapat dicegah dengan menggunakan teknik aseptik yang ketat selama pemasangan kateter intravena, plester kanula dengan aman untuk menghindari gerakan dan iritasi vena, mengencerkan obat-obatan yang dapat mengiritasi vena, serta rotasi sisi intravena setiap 72-96 jam untuk membatasi potensi infeksi (Weisten dalam Wijayasari, 2010).
Berdasarkan data dari Medical Record Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang mengenai jumlah pasien yang di Vapiliun Marwa (Bedah) selama 3 tahun terakhir yaitu pada tahun 2009 sebanyak 1024 jiwa, pada tahun 2010 sebanyak 806 jiwa dan pada tahun 2011 sebanyak 857jiwa.
Dari hasil studi pendahuluan di Vaviliun Marwa (bedah) Rumah Sakit Islam Siti khodijah Palembang terdapat 25 pasien yang terpasang infus dengan jarak rata-rata 2-5 cm dan persendian pergelangan tangan atau carpal. Namun tidak jarang juga pasien dengan pemasangan IV line tepat pada daerah persendian. Dari jumlah pasien yang ada didapatkan 2 pasien yang mengalami gejala flebitis dengan pemasangan IV line tepat pada daerah persendian. Menurut data yang didapatkan dari Vapiliun Marwa kasus flebitis jarang sekali terjadi. Tetapi berdasarkan pengalaman di lapangan, resiko terjadinya flebitis mekanik cenderung lebih tinggi. Hal ini dapat diakibatkan karena pengaruh kanul yang idak terfiksasi adekuat pada vena di area persendian yang memungkinkan pasien melakukan pergerakan.
Dan fenomena di atas peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana pengaruh jarak pemasangan infus dan persendian karena gejala flebitis merupakan salah satu potensi yang menghambat terapi intravena (IV).
B. Rumusan Masalah
Pelayanan keperawatan yang bebas dan infeksi merupakan indikator kualitas pelayanan keperawatan. Kajian teori dan hasil penelitian menjelaskan bahwa banyak faktor yang memiliki hubungan dengan upaya pencegahan infeksi dalam pelayanan keperawatan. Salah satunya adalah infeksi yang berhubungan dengan pemasangan terapi IV.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kejadian infeksi yang berhubungan dengan terapi IV. Salah satunya adalah lokasi tempat pemasangan IV line itu sendini. Namun belum diketahui adanya hubungan jarak lokasi pemasangan infus dan persendian dengan kejadian infeksi misalnya flebitis. Karena seperti yang kita ketahui bahwa persendian adalah daerah yang memungkinkan terjadinya pergerakan sehingga jika dilakukan pemasangan infus akan berpengaruh terhadap IV line..
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  pengaruh jarak pemasangan infus dan persendian dengan kejadian flebitis.
2. Tujuan Khusus
a). Diketahuinya jarak pemasangan infus dan daerah persendian di Vapiliun Marwa (Bedah)  Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang Tahun 2012.
b). Diketahuinya kejadian flebitis pada pasien di Vapiliun Marwa (Bedah)  Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang Tahun 2012.
c). Diketahuinya hubungan antara jarak pemasangan infus dan persendian dengan kejadian flebitis di Vapiliun Marwa (Bedah)  Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang Tahun 2012.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan
Diharapkan dapat menjadi masukan dalam pengambilan kebijakan berkenaan dengan  Standar  operasional prosedur (SOP) pemasangan infus di rumah sakit. Dan juga sebagai salah satu alat evaluasi pencapaian tindakan pencegahan infeksi melalui jarum infus (phlebitis) dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan dapat menambah perbendaharahaan karya tulis ilmiah dan sebagai acuan pembelajaran atau bahan perbandingan dalam penulisan karya tulis ilmiah selanjutnya tentang kejadian phlebitis.
3. Bagi Peneliti
Diharapkan dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman pembelajaran mengenai hubungan antara jarak pemasangan infus dan persendian dengan kejadian flebitis di Vapiliun Marwa (Bedah)  Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang Tahun 2012..
 


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Terapi  Intravena
1. Pengertian Terapi Intravena
Terapi intravena merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan dengan cara memasukkan cairan  melalui intravena dengan bantuan infus set yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit tubuh  (Tamsuri, 2008).
Terapi intravena adalah salah satu cara atau bagian dari pengobatan untuk memasukkan obat atau vitamin ke dalam tubuh pasien (Darmawan, 2008).
Selain itu terapi intravena diberikan untuk memperbaiki atau mencegah ketidakseimbangan cairan dan elektrolit pada penyakit akut dan kronis dan juga digunakan untuk pemberian obat intravena (Potter dan Perry, 2005).
2. Tujuan Terapi Intravena
Tujuan utama terapi intravena diherikan pada pasien menurut Sugiarto (2006) adalah:
a). Mengembalikan dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.

b). Memberikan obat-obatan dan kernoterapi.
c). Transfusi darah dan produk darah.
d). Memberikan nutrisi parenteral dan suptemen nutrisi.

3. Keuntungan dan Kerugian Terapi Intravena
a). Keuntungan
Menurut Sugiarto (2006), terapi intravena mempunyai keuntungan sebagai berikut :
7
 
(1) Efek terapeutik segera dapat tercapai karena penghantaran obat ke tempat target berlangsung cepat.
(2) Absorsi total memungkinkan dosis obat lebih tepat dan terapi lebih dapat diandalkan.
(3)      Kecepatan pemberian dapat dikontrol sehingga efek terapeutik dapat dipertahankan maupun dimodifikasi
(4)      Rasa sakit dan iritasi obat-obat tertentu jika diberikan intramuskular atau subkutan dapat dihindari.
(5)      Sesuai untuk obat yang tidak dapat diabsorbsi dengan rute lain karena molekul yang besar, iritasi atau ketidak stabilan dalam traktus gastrointestinalis.
b). Kerugian
Sugiarto (2006) mengatakan hahwa terapi intravena mempunyai kerugian sebagai berikut:
(1)   Tidak bisa dilakukan “drug recall” dan rnengubah aksi obat tersebut sehingga resiko toksisitas dan sensitivitas tinggi.
(2)   Kontrol pemberian yang tidak baik bisa rnenyebabkan “speed shock”.
(3)   Komplikasi tambahan dapat timbul, yaitu kontaminasi mikroba melalui titik akses ke sirkulasi dalam periode tertentu, iritasi vaskular seperti flebitis mekanik dan kimia, inkompabilitas obat dan interaksi dari berbagai obat tambahan.
4. Peran Perawat dan Terapi Intravena
Dalam perawatan di rumah sakit, perawat mempunyai peran serta fungsi dalam melakukan tindakan. Adapun peran perawat dalam tindakan terapi intravena menurut Sugiarto (2006) adalah:
a)      Memastikan tidak ada kesalahan rnaupun kontaminasi cairan infus maupun kemasannya.
b)      Memastikan cairan infus diberikan secara benar (pasien, jenis cairan, dosis, cara pemberian dan waktu pemberian).
c)      Memeriksa apakah jalur intravena tetap paten.
d)     Observasi tempat penusukan (insersi) dan melaporkan abnormalitas.
e)      Mengatur kecepatan tetesan sesuai dengan instruksi.
f)       Monitor kondisi pasien dan melaporka setiap perubahan.


5. Indikasi Pemberian Jalur Intravena
Secara umum, Sugiarto (2006) rnengatakan hahwa keadaan-keadaan yang dapat memerlukan pemberian cairan infus adalah:
a)      Perdarahan dalam jumlah banyak (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah).
b)      Trauma abdomen (perut) berat (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah).
c)      Fraktur (patah tulang), khususnya di pelvis (panggul) dan femur (paha) (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah).
d)     “Serangan panas” (heat stroke) (kehilangan cairan tuhuh pada dehidrasi).
e)      Diare dan demam (mengakibatkan dehidrasi).
f)       Luka bakar luas (kehilangan banyak cairan tubuh).
g)      Semua trauma kepala. dada. dan tulang punggung (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah).
Selain untuk pemberian cairan, pemasangan intravena juga berfungsi untuk pemberian obat IV dengan indikasi yaitu:
a)      Pada seseorang dengan penyakit berat, pemberian obat melalui intravena langsung masuk ke dalam jalur peredaran darah. Misalnya, pada kasus infeksi bakteri dalam peredaran darah (sepsis). Sehingga memberikan keuntungan lebih dibandingkan memberikan obat oral. Namun sering terjadi, meskipun pemberian antibiotika intravena hanya diindikasikan pada infeksi serius, rumah sakit rnemberikan antibiotika jenis ini tanpa melihat derajat infeksi. Antibiotika oral pada kebanyakan pasien dirawat di RS dengan infeksi bakteri, sama efektifnya dengan antibiotika intravena, dan lebih menguntungkan dan segi kemudahan administrasi RS, biaya perawatan. dan lamanya perawatan.
b)      Obat tersebut memiliki bioavailabilitas oral (efektivitas dalam darah jika dimasukkan melalui mulut) yang terbatas. Atau hanya tersedia dalarn sediaan intravena (sebagai obat suntik). Misalnya antibiotika golongan aminoglikosida yang susunan kimiawinya “polications” dan sangat polar, sehingga tidak dapat diserap rnelalui jalur gastrointestinal di usus hingga sampai masuk ke dalam darah). Maka harus dimasukkan ke dalam pembuluh darah langsung.
c)      Pasien tidak dapat minum obat karena rnuntah, atau memang tidak dapat menelan obat (ada sumbatan di saluran cerna atas). Pada keadaan seperti ini, perlu dipertirnbangkan pemberian rnelalui jalur lain sepe rektal (anus), sublingual (di bawah lidah), subkutan (di bawah kulit), dan intramuskular (disuntikkan di otot).
d)     Kesadaran menurun dan berisiko terjadi aspirasi (tersedak atau obat masuk ke pernapasan), sehingga pemberian melalui jalur lain dipertimbangkan.
e)      Kadar puncak obat dalam darah perlu segera dicapai, sehingga diberikan melalui injeksi bolus (suntikan langsung ke pembuluh balik atau vena). Peningkatan cepat konsentrasi obat dalam darah tercapai. Misalnya pada orang yang mengalami hipoglikemia berat dan mengancam nyawa, pada penderita diabetes melitus. Alasan ini juga sering digunakan untuk pemberian antibiotika melalui infus atau suntikan, namun perlu diingat bahwa banyak antibiotika memiliki bioavailabilitas oral yang baik, dan mampu mencapai kadar adekuat dalam darah untuk membunuh bakteri.
Dari uraian di atas dapat diketahui hahwa pemberian atau pemasangan terapi intravena harus sesuai indikasi pada keadaan-keadaan tertentu dan berfungsi untuk pemberian obat intravena. Secara garis besar, Sugiarto (2006) menyimpulkan bahwa indikasi pemasangan terapi intravena, yaitu:
a)      Pemberian cairan intravena (intravenous fluids).
b)      Pemberian nutrisi parenteral (langsung masuk ke dalam darah) dalam jumlah terbatas.
c)      Pemberian kantong darah dan produk darah.
d)     Pemberian obat yang terus-menerus (continiu).
e)      Upaya profilaksis (tindakan pencegahan sebelum prosedur (misalnya pada operasi besar dengan risiko perdarahan, dipasang jalur infus intravena untuk persiapan jika terjadi syok, juga untuk memudahkan pemberian obat).
f)       Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil, misalnya resiko dehidrasi (kekurangan cairan) dan syok (mengancam nyawa), sebelum pembuluh darah kolaps (tidak teraba). sehingga tidak dapat dipasang jalur infus.

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terapi intravena
1. Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Sisi Penusukan Vena
Menurut Sharon dalarn Sugiarto (2006) ada beherapa faktor yang mempengaruhi pemilihan sisi penusukan vena, yaitu:
a)      Umur pasien; misalnya pada anak kecil. pemilihan sisi adalah sangat penting dan mempengaruhi berapa larna IV perifer berakhir.
b)      Prosedur yang diantisipasi; misalnya jika pasien harus menerirna jenis terapi tertentu atau mengalami beberapa prosedur seperti pembedahan. pilih sisi yang tidak terpengaruhi apapun.
c)      Aktivitas pasien; misalnya gelisah, bergerak. tak bergerak dan perubahan tingkat kesadaran.
d)     Terapi IV sebelumnya; flebitis sebelumnya membuat vena tidak baik untuk digunakan. Kemoterapi juga dapat membuat vena menjadi buruk (mudah pecah).
e)      Sakit sebelumnya, misalnya jangan digunakan ekstrimitas yang sakit pada pasien stroke.
f)       Kesukaan pasien; jika mungkin pertimbangkan kesukaan alami pasien untuk sebelah kiri atau kanan.
g)      Torniquet; gunakan 4 sampai 6 cm di atas titik yang diinginkan.
h)      Membentuk genggaman; minta pasien membuka dan menutup genggaman berulang-ulang.
i)        Posisi tergantung; gantung lengan pada posisi menggantun (rnisalnya di bawah batas jantung).
2. Pemilihan Kanula untuk Infus Perifer
Menurut Prajitno dalam Sugiarto (2006), pemilihan kanul dapat mempengaruhi terapi infus perifer, antara lain:
a)      Kanula plastik boleh digunakan untuk IV secara rutin, pemasangan tidak boleh Iebih dan 48-72 jam.
b)      Kanula logam digunakan bila kanula plastik tidak mungkin diganti secara rutin setiap 48-72 jam, namun untuk kasus tertentu yang memelihara fiksasi yang baik harus digunakan kanula plastik.
3. Pemilihan Lokasi Pemasangan IV
Pemilihan lokasi pemasangan infus menurut Sharon dalam Sugiarto (2006) adalah :
a)      Pada orang dewasa pemasangan kanula lebih baik pada lengan atas dan pada lengan bawah, bila perlu pemasangan dilakukan di daerah sub klavikula atau jugularis.
b)      Vena tangan paling sering digunakan untuk terapi IV yang rutin.
c)      Vena lengan, periksa dengan teliti kedua lengan sebelum keputusan dibuat
d)     Vena lengan atas, juga digunakan untuk terapi IV.
e)      Vena ekstremitas bawah, digunakan hanya menurut kebijaksanaan institusi.
f)       Vena kepala, digunakan sesuai kebija institusi, sering dipilih pada bayi dan anak.
4. Persiapan Psikologis pada Pasien
Persiapan psikologis pada pasien juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pemasangan intravena (Sharon dalarn Sugiarto, 2006), yaitu:
a)   Jelaskan prosedur sebelum melakukan dan berikan penyuluhan jika diperlukan.
b)   Berikan instruksi tentang perawatan dan keamanan IV.
c)   Gunakan terapi bermain untuk anak kecil.
d)  Dorong pasien untuk mengajukan pernyataan atau masalah.
5. Persiapan Pemasangan IV
Adapun persiapan pemasangan IV menurut Prajitno dalam Sugiarlo (2006) adalah:
a)      Tempat yang akan dipasang kanula terdahulu didesinfeksi dengan antiseptik.
b)      Gunakan Yodium Tinture 1-2 % atau dapat juga menggunakan Klorheksidine, lodofer atau alkohol 70 %. Antiseptik secukupnya dan ditunggu sampai kering minimal 30 detik sebelum dilakukan pemasangan kanula.
c)      Jangan menggunakan heksalurofen atau campuran semacam benzalkonium dalam air untuk desinfeksi tempat tusukan
6. ProsedurPermasangan Infus
Prosedur pemasangan terapi intravena menurut Sharon dalam Sugiarto (2006) adalah:
a)      Lakukan pemilihan sisi dan pakai sarung tangan.
b)      Pasang tourniquet di atas sisi pemasangan untuk meningkatkan pengisian vena yang lebih baik (jika aliran arteri tidak teraba dapat disebabkan karena tourniquet terlalu ketat).
c)      Siapkan kulit sesuai kebijaksanaan institusi yang diterima.
d)     Pastikan kelengkapan produk misalnya jarum, kateter atau starter pack.
e)      Tusukkan alat inius ke kulit, sisi potongan jarum ke arah atas dengan sudut kira kira 45 derajat terhadap kulit. Turunkan batang jarum sarnpai menjadi sejajar dengan kulit dan dorong jarum sarnpai vena tertembus. Aliran balik darah umumnya memastikan masuk kedalam vena.
f)       Dengan perlahan angkat keseluruhan batang dan dorong ke dalam vena.
g)      Untuk kateter ketika jarum introdukter, dorong kateter plastik melewati jarum ke dalam pembuluh sementara jarum tidak bergerak. Cabut jarum introdukter, patahkan, dan buang ke tempat yang aman. setelah mernastikan bahwa darah mengalir.
h)      Hubungkan set pemberian dan tentukan kecepatan aliran yang diinginkan.
i)        Fiksasi jarum atau kateter.
j)        Adalah sangat membantu untuk memberi label pada sisi IV dengan tanggal dan ukuran alat yang digunakan dalam upaya untuk mempermudah keputusan mengenai infus atau darah.
7. Prosedur Setelah Pemasangan
Prosedur setelah pemasangan IV line menurut Prajitno dalarn Sugiarto (2006) yaitu:
a)      Beri antiseptik pada tempat pemasangan terutama pada teknik insisi.
b)      Kanula difiksasi sebaik-baiknya.
c)      Tutuplah dengan kasa steril.
d)     Cantumkan tanggal pemasangan di tempat yang rnudah dibaca (misalnya plester, penutup pipa infus) serta pada catatan pasien yang bersangkutan tuliskan tanggal dan lokasi pemasangan.
8. Perawatan Tempat Pemasangan Infus
Adapun cara perawatan tempat pernasangan IV line menurut Prajitno dalarn Sugiarto (2006) adalah :
a)      Tempat tusukan diperiksa setiap hari untuk melihat kemungkinan timbulnya komplikasi tanpa membuka kasa penutup yaitu dengan cara meraba daerah vena tersebut, Bila ada demarn yang tidak bisa dijelaskan dan ada nyeri tekan pada daerah penusukan, barulah kasa penutup dibuka untuk melihat kemungkinan komplikasi.
b)      Cek setiap 8 jam apakah ada tanda-tan flebitis atau infeksi.
c)      Pindahkan pemasangan IV line setiap 72 jam untuk mengurangi resiko flebitis atau infeksi lokal.
d)     Bila kanula harus dipertahankan untuk waktu lama, maka setiap 48-72 jam kasa penutup harus diganti dengan yang baru dan steril.
e)      Bila pada pemasangan kanula, tempat pemasangan diberi antiseptik maka setiap penggantian kasa penutup, tempat pemasangan diberi antise kembali.
9. Penyulit Terapi Intra Vena
Terapi intravena dapat menyebabkan beberapa penyulit yang ringan dan dapat menyebabkan kerusakan vena sampai yang fatal sehingga dapat menyebabkan kematian. Adapun gangguan yang dapat terjadi pada saat terapi intravena seperti flebitis tromboflebitis, purulenta, bakteri (Prajitno dalam Sugiarto, 2006).
Selain penyakit, ada beherapa hal yang perlu diperhatikan pada pemasangan infus melalui jalur pembuluh darah vena. Pemasangan jalur intravena memiliki kontraindikasi sebagai berikut:
a)      Inflamasi (bengkak, nyeri, demam) dan infeksi di lokasi pemasangan infus.
b)      Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, karena lokasi ini akan digunakan untuk pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt) pada tindakan hemodialisis (cuci darah).
c)      Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil yang aliran darahnya lambat (misalnya pembuluh vena di tungkai dan kaki).
10. Komplikasi Peniasangan Infus
Ada beberapa komplikasi yang dapat terjadi dalam pemasangan terapi IV menurut Sugiarto (2006), yaitu:
a)      Flematoma, yakni darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah arteri vena, atau kapiler, terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum, atau “tusukan” berulang pada daerah yang sama.
b)      Infiltrasi, yakni masuknya cairan infus ke dalam jaringan sekitar (bukan pernbuluh darah), terjadi akibat ujung jarum infus melewati pembuluh darah.
c)      Flebitis, tromboflebitis, atau bengkak (inflamasi) pada pernbuluh vena, terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan benar.
d)     Emboli udara, yakni masuknya udara ke dalam sirkulasi darah. terjadi akibat masuknya udara yang ada dalarn cairan infus ke dalam pembuluh darah.
e)      Ekstravasasi, yakni masuknya cairan infus ke dalam jaringan ekstrasel.

 C. Flebitis
1. Definisi Flebitis
Flebitis adalah peradangan pada tunika intima vena yang merupakan komplikasi pada pemberian terapi intra vena (IV) dan ditandai dengan gejala khas peradangan yaitu: bengkak, kemerahan sepanjang vena, nyeri, peningkatan suhu pada daerah insersi kanula dan penurunan kecepatan tetesan infus (Brooker,et all dalarn Sugiarto, 2006). Flebitis yaitu daerah yang mengalami bengkak, panas, dan nyeri pada kulit tempat kateter intravaskuler dipasang (kulit bagian luar). Jika flebitis disertai dengan tanda-tanda infeksi lain seperti demarn dan pus yang keluar dari tempat tusukan, ini dapat digolongkan sebagai infeksi klinis bagian luar (Saifuddin, 2004).
2. Pembagian Derajat Flebitis
Terdapat tiga pembagian derajat flebitis menurut Ignatavicius (2006), yaitu:
a)      Derajat I
Tanda-tanda: nyeri pada tempat penusukan, eritema dan edema, tidak ada streak, tidak teraba tonjolan.
b)      Derajat 2
Tanda-tanda: nyeri, eritema dan edema, ada formasi streak, tidak teraba tonjolan.


c)      Derajat 3
Tanda-tanda nyeri, eritema. ada formasi streak, teraba tonjolan.
3. Jenis Flebitis
Ada tiga jenis flebitis menurut Pujasari dalam Gayatri & Handayani (20(fl):
1) Flebitis Mekanik
Flebitis jenis ini berkenaan dengan pemilihan vena dan penempatan kanula, ukuran kanula yang terlalu besar dibandingkan dengan ukuran vena, fiksasi kanula yang tidak adekuat, ambulasi berlebihan terhadap sistem dan pergerakan ekstremitas yang tidak terkontrol. Flebitis mekanik terjadi cedera pada tunika intima vena.
Tindakan keperawatan untuk mencegah flebitis mekanik adalah :
a.       Lakukan teknik insersi kanula secara benar. Untuk menghindari cedera pada saat pemasangan kanula perawat harus memiliki pengetahuan dasar dan pengalaman yang memadai dalam pemberian terapi intravena. Idealnya harus ada perawat teregistrasi (RNs) atau perawat yang sudah mendapatkan pelatihan khusus tentang terapi IV atau sudah mendapatkan sertifikat spesialis.
b.      Lakukan pemilihan lokasi secara benar, hindari vena pada area fleksi atau lipatan atau ekstremitas dengan pergerakan maksimal serta persendian. Pilih vena yang besar, lurus, panjang dan tidak rapuh. Vena yang dianjurkan adalah vena metacarpal, vena sefalika, vena basalika, vena ante brakial medialis. Hindari pemilihan vena yang sudah mengeras (hematom).
c.       Lakukan pemilihan kanula secara tepat. Gunakan kanula dengan ukuran paling pendek dan diameter paling kecil. Sesuaikan dengan urnur. keperluan dan lamanya terapi. Semakin besar nomor, maka semakin kecil ukuran panjang dan diameter. Ukuran sediaan kanula dan mulai 16. 18, 20. 22, 24. Ukuran 24 digunakan untuk neonatus, bayi dan anak. untuk ukuran 16. 18, 20 digunakan pada klien dewasa.
d.      Perhatikan stabilitas kanula, dapat dilakukan dengan fiksasi untuk mendapatkan kanula yang adekuat. Jika fiksasi tidak adekuat memungkinkan gerakan keluar masuknya kanula dan goresan ujung kapula pada lumen vena.
2) Flebitis Kimiawi
Flebitis ini berkenaan dengan respon tunika intima terhadap osmolaritas cairan infus. Respon radang dapat terjadi karena pH dan osmolaritas atau obat juga karena sifat kimia bahan kanula yang digunakan.
a.   Pastikan pH dan osmolaritas cairan atau obat, pH normal darah adalah 7,35-7,45 sehingga pH dan osmolaritas cairan atau obat yang lebih rendah atau tinggi menjadi faktor predisposisi iritasi vena, l pengenceran rnaksirnal pada pemberian obat injeksi, karena campuran obat dapat menyebabkan forrnasi prespitat yang dapat meningkatkan resiko flebitis. Cairan isotonis yang menjadi hiperosmolar dan menyebabkan flebitis (flebitogenik) bila ditarnbahkan bahan seperti sediaan KCL. Perhatikan kecepatan tetesan infus, tetesan lambat menyebabkan absorbsi lambat dengan bemodilusi yang lebih kecil.
b.   Gunakan produk kanula yang non flebitogenik. meskipun belum dapat dipastikan jenis apa yang betul-betul mencegah flebitis. Pilih kanula yang bersifat elastis dan permukaannya lembut.
3) Flebitis Bakterial
Merupakan radang pada vena yang dikaitkan dengan infeksi bakteri. Tindakan keperawatan yang bisa dilakukan sebagai upaya pencegahannya adalah:
a.       Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan. Prosedur baku dalam pemasangan adalah menggunakan sarung tangan pada saat melakukan pungsi vena.
b.      Gunakan kassa dan sarung tangan bersih. Periksa keutuhan kemasan infus set dan cairan serta tanggal kadaluarsanya.
c.       Lakukan persiapan area dengan teknik aseptik dan antiseptik.
d.      Observasi secara teratur tanda-tanda flebitis minimal tiap 24 jam.
e.       Bersihkan dan ganti balutan infus tiap 24 jam atau kurang bila balutan rusak.
f.       Ganti sistem infus setiap 48-72 jam dan tandai tanggal pemasangan serta penggantian balutan.
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Flebitis
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya flebitis (Pujasari dalam Sugiarto, 2006). yaitu:
1.      Hindari pemilihan pada area fleksi atau lipatan atau pada ekstrimitas dengan pergerakan maksimal.
2.      Faktor-faktor pada pasien seperti adanya vena yang berkelok-kelok dan spasme vena dapat mempengaruhi kecepatan aliran (infus lambat atau berhenti).
3.      Ukuran kanula yang terlalu besar dibandingkan dengan ukuran vena sehingga memungkinkan terjadinya cedera pada tunika intima vena.
4.      Fiksasi yang kurang adekuat menyebabkan pergerakan kanula di dalam vena sehingga terjadi infeksi.
5.      Jenis cairan yang diberikan jika pH dan osmolaritas cairan atau obat yang lebih rendah atau lebih tinggi menjadi faktor predisposisi iritasi vena.
6.      Pengenceran obat infeksi yang tidak maksimal terutama jenis antibiotika.
7.      Kesterilan alat-alat intravena.
8.      Faktor keberhasilan perawat (cuci tangan sebelum dan sesudah pemasangan infus).

C. Penelitian Terkait
Gayatri dan Handayani (2003) menyatakan bahwa 35% dan 60 responden mengalami flebitis dengan jenis kelamin rata-rata laki-laki. Semakin jauh jarak pemasangan terapi intravena dan sendi maka resiko terjadinya flebitis akan semakin meningkat. Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya fiksasi dan dekatnya persambungan selang kanul dengan persendian lainnya. Hal utama yang perlu diperhatikan sebaiknya jarak pemasangar infus minimal 3-7 cm dan persendian. flehitis yang terjadi dalarn penelitian termasuk flehitis mekanik. Angeles dalani Gayatri & Handayani (2003) menyatakan hahwa flebitis mekanik atau fisik dapat terjadi karena kanul yang terlalu besar untuk vena, iritasi vena selama pemasangan, atau adanya pergerakan kanul di dalam vena.










D. Kerangka Teori
Kerangka teori di bawah ini dibuat berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi pemasangan infus terhadap kejadian flebitis.



















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar